tamasya-bola-feat

Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola

Darmanto Simaepa
ISBN: 978-602-1318-31-7
Cetakan Pertama, April 2016
i – xviii + 384 hlm, 14 x 21 cm
Rp85.000


KEMUNCULAN blog dan portal berita khusus sepakbola, seiring perubahan lanskap media, telah memperkaya alternatif bacaan tentang olahraga paling digemari sejagat ini. Tak hanya itu, mereka juga menawarkan beragam sudut pandang serta melahirkan para pandit yang menangkap sepakbola sebagai seni bercerita dan produk budaya.

Kemudahan teknologi dalam membaca dan merekam permainan ini telah memberi kita—sebagai pencinta dan penonton sepakbola—ketepatan atas presisi suatu tendangan, taktik dan strategi, jarak jelajah seorang pemain, kecepatan lari, dan aneka statistik lain yang mengukur olahraga ini nyaris selalu menuju (dan mengidamkan) kesempurnaan. Ia adalah sesuatu yang membawa sepakbola terus berevolusi dan, karena itu, memunculkan istilah-istilah baru serupa bayi-bayi yang baru lahir ke dunia.

Tetapi rasa amarah, sedih, senang dan sebagainya—yang inheren dalam diri manusia—tumpah pula di dalamnya. Setidak-tidaknya kita bisa melihatnya dari layar televisi saat siaran langsung, menjumpai gemuruh dan keringat penonton di stadion, atau mendapati wajah murung teman kita yang klub kesayangannya kalah bertanding semalam.

Sepakbola, di samping kian menjadi industri (yang entah kapan akan membaik di Indonesia), dengan kata lain, adalah pancaran emosional dari diri kita.

Perubahan media dan perkembangan (industri) sepakbola yang terus bergerak ini membawa kita pada imajinasi terbuka. Semula diulas monoton soal perkara gol dan siapa menang lawan siapa, ia bisa menjadi sangat luwes di tangan pencerita. Kita tidak hanya menikmati permainan 2×45 menit (atau perpanjangan waktu dan adu penalti), tapi juga segenap penelusurannya yang bertali dengan problem besar dunia dan pengalaman konkret manusia.

Karena itulah kami senang bisa mendokumentasikan sepilihan esai Darmanto Simaepa tentang sepakbola ini. Pilihannya dalam memancang sikap terhadap (tren) penulisan sepakbola bisa sangat unik, kendati tidak baru benar, yang mencandra permainan ini sepenuh hasrat dan emosi seraya menendang keras ke luar lapangan beragam (alat bantu) statistik dan data ensiklopedis. Dengan cara itulah sehimpunan narasi Darmanto adalah seseorang yang bisa sangat frustasi, di kali lain bisa melankolis, di saat berikutnya bisa begitu kritis; tapi, di atas semuanya, dengan bahasa yang lumer dan berirama, ia adalah perayaan (kembali) atas permainan ini.

Kejayaan dan kebangkrutan, era gemilang dan masa padam, serta kecakapan dan kemuraman bagi mereka yang (pernah) hidup di dalam permainan yang mengandalkan bakat alami dan keseriusan teknikal ini, di tangan pengulas ulung, bisa jalin-menjalin dengan proyek-proyek sosial dan politik global. Secara rileks pula ia dapat dipadupadankan dengan kisah pinggiran di perkampungan Jawa dan Sumatra atau taman-taman kota di Australia dan Belanda.

Tepat kiranya jika kami menyebutnya sebagai tamasya: kenikmatan mengarungi putaran bola yang makin mengglobal beserta paradok-paradoksnya.*


“Saya mungkin akan terus terlibat pertengkaran soal sepakbola dengan Darmanto. Tapi, untuk tulisan-tulisan di buku ini, saya akan siap bertengkar dengan siapa pun yang mengabaikannya selagi mengaku menyukai sepakbola.”

—Mahfud Ikhwan, kompatriot di ‘Belakang Gawang’

Leave a Reply