Resensi

Berakrobat Kata, Memantik Tawa

Pengalaman hidup yang sering gagal, apes, penuh musibah dan derita tak melulu mesti diceritakan dengan sendu nan mengharu-biru. Beberapa orang memilih menertawakan kisah apes yang dialaminya, bahkan ada yang menuturkannya dengan kebanggaan dan kata-kata akrobatik, seperti dalam buku ini. Agus Mulyadi, penulis asal Magelang yang mengawali karirnya dari seorang operator warnet dan bloger, lewat buku terbarunya ini menyuguhkan keceriaan pada pembaca lewat pelbagai kisah hidupnya yang sebenarnya sering menyedihkan. 

Buku tak begitu tebal ini terdiri dari dua Bab. Bab pertama berisi cerita-cerita tentang Keluarga Hansip dan bab kedua tentang Marcopolo dan Geng Koplo. Di cerita keluarga hansip, yang tak lain adalah keluarganya sendiri, tanpa rasa sungkan Agus menuturkan kekonyolan demi kekonyolan yang terjadi di keluarganya, terutama lewat karakter unik bapaknya, Trimo Mulgiyanto. Agus memperkenalkan sang bapak sebagai sosok yang kadang membanggakan karena keteguhannya sebagai kepala rumah tangga dan kegagahannya kala berseragam hansib. Namun, sosok tersebut juga sering menyebalkan karena sering bersikap sok dan sembrono.

Di cerita pertama, Agus langsung mengenalkan “bagaimana” sang bapak. Di cerita berjudul “Seni Menjawab dengan Taktis”, Agus menunjukkan kemampuan bapaknya dalam menjawab pertanyaan secara singkat, taktis, dan brilian. Agus pernah bertanya ke bapaknya, “Pak, apakah Bapak bisa bertahan hidup selama seminggu dengan uang lima ratus rupiah?”. Agus heran ketika Bapaknya menjawab sanggup. “Lima ratus tak belikan aqua gelas. Airnya tak minum, terus gelasnya buat ngemis,” jelas bapaknya. 

Kisah-kisah lucu tentang bapak sering bermula dari himpitan ekonomi yang memunculkan tingkah nekat dan nasib apes. Seperti bagaimana Agus mengisahkan bapaknya yang hampir ikut pesugihan namun tak jadi karena takut menanggung saratnya, juga pernah dihukum dengan ditaburi isi celananya dengan semut rangrang karena terlibat kasus penjarahan kantor pos, juga pernah dihukum menarik mundur gerobak es kelapa mudanya karena masuk area terlarang di perumahan Akmil saat berjualan.  

Kelucuan juga berasal dari nasib apes Agus sendiri. Keapesan nasib Agus tak jauh-jauh dari Bapak dan adik-adiknya dan itu kerap membuat Agus berkisah dengan nada kesal. Saat baru berumur setahun, Agus kecil pernah diletakkan begitu saja di tanah kebun dan dibentak-bentak bapaknya karena terus menangis. Agus juga kerap menjadi sasaran hinaan ayahnya ketika adiknya mendapat prestasi di sekolah. Atau, Agus juga kerap menjadi sasaran adiknya yang hobi berjualan. “Tak terhitung berapa kali saya harus membeli barang yang ia jual padahal saya tak membutuhkannya,” tulisnya. Jika diperhatikan, kisah-kisah tersebut cenderung biasa saja, namun kelihaian Agus berakrobat kata-kata dan memosisikan diri sebagai “korban” dari setiap cerita, membuatnya terasa cukup menggelikan. 

Sebelum dikenal banyak orang sebagai penulis, bloger, hingga redaktur situs Mojok.co—yang telah membuat kehidupannya membaik, Agus sudah melewati masa-masa sulit. Lulus SMA, dari Magelang Agus merantau ke Jogja dan bekerja sebagai operator warnet. Ketika warnet tutup, Agus sempat tiga bulan di Jogja tanpa pekerjaan. Dalam tekanan tersebut, Agus berkisah pengalaman saat kena tipu lowongan kerja perusahaan abal-abal. Lowongan bagian administrasi berketentuan lulusan SMA dan bergaji 1,5 juta tersebut membuatnya bersemangat melamar, sampai kemudian ia sadar ada yang tak beres saat diberi tahu kerjanya adalah menjual tuksedo. 

Di samping melenceng dari iklan lowongan, Agus merutuk, “Lha mbok dibayangkan. Saya yang dengan pakaian semahal apa pun tetap kelihatan dekil disuruh jual tuksedo seharga 1,2 juta. Untung kalau ada yang beli, lha kalau saya malah dituduh menjual tuksedo curian? Lha bobrok bakule slondok!”. Agus mundur meski telanjur membayar biaya wawancara. Bertahun-tahun kemudian, saat melihat di Facebook ada orang memberi nasihat pada korban penipuan agar memakai akal sehat sebelum daftar kerja, Agus membalas, “Enak saja dia bilang perihal akal sehat. Dia pasti tak paham, betapa akal sehat tak berlaku untuk lelaki yang harga dirinya terancam sebab tak punya pekerjaan” (hlm 122). 

Hidup di keluarga yang serba pas-pasan mulanya menjadi “bahan” cerita konyol yang disuguhkan Agus. Namun, ketika kemudian hidupnya membaik dan berkecukupan, kelucuan masih tetap muncul. Kelucuan muncul ketika Agus mengenang masa-masa sulit saat kondisi kehidupannya yang sudah jauh membaik. Ketika Agus membeli pasta gigi Close-Up, ia teringat dulu di masa kecil pasta gigi bermerek tersebut hanya menjadi impian belaka, sebab ia dan keluarganya hanya mampu membeli Ritadent. Atau, ketika kecil ia hanya punya celana dalam murahan yang tipis dan panas saat dipakai, sekarang, saat sudah punya penghasilan lumayan, ia “balas dendam” dengan menekuni hobi membeli celana dalam yang bermerek.

Selain dari bapak, keluarga, dan diri sendiri, kisah konyol juga bersumber dari persinggungan Agus dengan teman-teman di desanya. Agus mengisahkan temannya, Karyo yang ketakutan melihat dhemit dan hanya mampu mengucapkan alif-ba-ta berulang-ulang karena tak hafal satu pun ayat Al Qur’an, juga cerita Itok yang pernah berselimut kain keranda mayat saat tidur di masjid, atau kelakuan ndablek Marcopolo, gentho yang gemar mabuk dan tawuran. Kisah-kisah itu lucu, namun komentar Agus tak kalah lucu. Tentang kisah Karyo, “Saya ndak yakin dhemit itu hilang karena panas oleh bacaan huruf hijaiyah yang dibaca Karyo. Saya lebih yakin, dhemit itu hilang karena ndak kuat menahan tawa saking gelinya”.

Tak semua kisah memantik tawa. Beberapa kisah terasa datar, meski penulis berusaha membuatnya tetap menarik dengan akrobat kata-katanya. Pada akhirnya, Lambe Akrobat berisi kisah-kisah unik, kadang ringan, bahkan remeh, yang disampaikan dengan pembawaan penulis yang humoris, lihai berkata-kata dan mempermak kisah. Agus mengakui di lembar awal, “Tulisan-tulisan di buku ini tak seluruhnya persis seperti peristiwa aslinya. Beberapa ada yang saya sunting, ditambahkan, dan ada yang dikurangi”. Meski begitu, buku ini akan mudah menghibur pembacanya. Pun, memberi gaya unik dalam menyikapi kesusahan, nasib apes, dan kegagalan, yakni dengan kejujuran dan tawa canda yang riang.   

 

*Pertama kali dimuat di Koran SOLOPOS edisi Minggu 24 Juni 2018

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *