Resensi

Kehidupan Tiga Wanita Berbeda Zaman dan Tragedi 1965

“Tak ada  manusia yang bisa melarang manusia lain untuk memiliki Tuhan dan agama. Lagi pula, tolak ukur manusia yang beragama dan ber-Tuhan siapa yang tahu? Yang tahu, ya hanya diri kita sendiri. Hubungan spiritual itu tak bisa ditebak dan dinilai orang lain dari penampilannya saja.” (hal 262). 

Buku ini menceritakan tentang kehidupan tiga wanita dalam rentan masa yang berbeda.  Diceritakan dengan sudut padang pertama dari masing-masing tokoh, akan membuat kita merasa kisah itu terasa dekat sekali dengan kita. Seolah kita bisa melihat kilasan cerita di depan mata. Belum lagi cerita yang dipaparkan sangat kompleks. Kita akan dihadapkan pada sebuah kisah yang entah bagaimana, akan membuat kita merasa sedih, marah dan tidak berdaya. 

Apalagi dalam kisah ini meski tidak  diungkapkan secara jelas dan terperinci, penulis mencoba mengungkapkan tragedi 1965 yang menjadi latar sejarah kejamnya hidup yang dialami tokoh cerita ini.  Penanggkapan tanpa surat perintah, perintah mengakui kejahatan yang tidak dilakukan serta menjadi korban tahanan di Plantungan, telah membuat kehidupan tokoh dalam kisah ini harus memeluk luka serta rindu. 

Sunyi, merupakan wanita pertama yang dibahas penulis dalam buku ini. “Andai Tuhan memberikan kesempatan kedua, aku ingin memilih agar dilahirkan dari seorang ibu yang lain. Tapi sungguh sial, Tuhan menciptakan hatiku demikian terbatasnya. Benci dan sayang dilebur menjadi satu, dan itu semua hanya untuk ibuku. Meski demi menjadi anaknya, aku harus menjadi seorang pendusta.” (hal 1). 

Terlahir sebagai anak  dari kupu-kupu malam, membuat Sunyi harus mengalami berbagai pesakitan. Dikucilkan dalam pergaulan, dicemooh dan bahkan hampir mengalami pelecehan seksual.  Sunyi marah dengan keadaan. Namun apa yang bisa dia lakukan? Ketika ibunya sendiri tidak juga mau keluar dari dunia malam itu. Ibunya tetap keukuh bekerja kepada Bonet, mucikari yang telah mengambil untung banyak dari  pekerjaan ibunya. Hingga suatu hari dia mengetahui alasan di balik piliha ibunya, hingga Sunyi bertekad untuk mengeluarkan ibunya dari dunia kelam itu. 

Sumira, wanita lain  serta ibu dari Sunyi yang juga mengalami kepahitan dan kesedihan hidup yang tak terkira. Di usianya yang masih belia, dia harus menerima takdir, bahwa ibunya tiba-tiba ditangkap aparat dan menjadi penghuni jeruji. Dan sejak itu Sumira harus menerima cibiran dari para tetangganya. Dicap sebagai anak orang jahat, dan bahkan kemudian dia menjadi korban jual beli manusia.  Sumira tidak pernah menyangka bahwa sosok yang dulu mengaku mencintai dan berjanji menikahinya, malah menjualnya kepada mucikari, sehingga dia terperosok pada jalan hidup yang laknat.

“Aku tak ingin menghardik Tuhan, ataupun menuntutunya, meski apa yang dituliskan untukku terlalu pahit. Karena aku sadar, Tuhan Maha Pemberi. Hidupku adalah kanvas yang terbentang, terserah mau apa yang dituliskan di sana. Aku hanya ingin menikmatinya dan berterima kasih, meski aku sangat benci dengan hidupku sendiri.” (hal 85). 

Dan wanita ketiga adalah Suntini, ibu dari Sumirah, yang berarti nenek dari Sunyi. Kehidupannya pun tidak kalah menyedihkan dari keturunannya. Kebagiaan yang dia terima baru sejengkal, ketika tiba-tiba suaminya meninggal dunia. Dengan kegigihannya dia bertahan demi putri semata wayangnya. Namun di sebuah waktu yang tidak terduga, pertemuannya dengan Dyah, sahabat lamanya, pada akhirnya mengangantarkan Suntini menjadi penghuni jeruji. Dia ditangkap tanpa mengetahui kesalahannya dan di penjara di  Plantungan. 

Dengan benang merah yang cuku rapi, penulis berhasil merajut kisah ini dengan menarik.  Membaca jejak masing-masing tokoh wanita dalam kisah ini, akan membuat kita belajar banyak hal dari kisah ini.  Hanya saja ada beberapa bagian yang terasa bolong dan tidak dijelaskan secara gamblang. Khususnya pada bagian Suntini. Di mana saya belum merasa sesuatu yang lebih greget dan menggetarkan. Padahal jika penulis menjabarkan lebih dalam, kisah ini akan lebih menarik dan apik. 

Namun lepas dari kekurangangnya, buku ini cukup memberi banyak pembelajaran hidup. Seperti  ajakan untuk selalu mengingat Tuhan, rasa syukur dan belajar memaafkan. “Membenci  akan membuat nilai derajat diri kita turun, akan lebih menjadi rendah lagi. memaafkan siapa saja yang menyakiti adalah satu cara yang ampuh untuk mengobati hati yang merasa tersakiti.” (hal 120).

Srobyong, 11 November 2018

 

*Pertama kali dimuat di Harian Singgalang, Minggu 9 Desember  2018.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *