Resensi

Memahami Esensi Memeluk Agama Islam

Memang benar, membaca buku ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hampir semua esai diangkat dari kisah nyata. Ada beberapa esai yang diinspirasi dari ceramah gus dan kiai. Tak heran, saat membacanya kita akan merasa dejavu.

Buku kumpulan esai bernuansa Islami kental yang ditulis oleh Ahmad Khadafi, barangkali menjadi salah satu buku yang tepat dijadikan referensi bacaan bagi umat Islam, terutama Indonesia. Hanya membaca judulnya saja sudah menggelitik. Secara keseluruhan, buku ini menguak cara memeluk agama Islam yang esensial. Bukan hanya menjadikan agama Islam sebagai agama di KTP atau di ujung lidah saja, tetapi sungguh dijalankan di kehidupan sehari-hari.

Seluruh esai dalam buku ini dibuat ciamik dan tak tampak menggurui. Dengan gaya prosa yang begitu memikat, Ahmad Khadafi mampu membuat setiap esai, sarat oleh pesan esensial beragama Islam. Pesan-pesan yang sejatinya berat dan serius, disulap menjadi ringan dan jenaka. Kadang membuat tertawa, tetapi di bagian lain mampu membuat kening berkerut berpikir.

Dalam Kenapa Komik Siksa Neraka Lebih Diminati Ketimbang Komik Nikmatnya Surga? Khadafi mengangkat seputar komik siksa neraka yang umumnya dijual oleh penjual mainan anak di depan sekolah. Komik siksa neraka bisa dibilang fenomenal karena mampu membuat anak trauma untuk melakukan dosa. Bahkan lebih ampuh ketimbang ceramah ustaz atau kiai. Bahkan komik siksa neraka lebih membekas dan membuat penasaran daripada komik siksa neraka. Penyebabnya karena gambaran surga tidak begitu menarik bagi umat Islam di Indonesia. Di negeri gemah ripah loh jinawi ini, apa sih gambaran surga yang tidak bisa dilihat langsung? Sungai jernih yang mengalir, ada. Taman-taman yang indah, juga ada. Hutan yang hijau dan lebat juga sudah akrab. Nah, berbanding terbalik dengan umat Islam di Arab. Gambaran surga sangat menggiurkan bagi mereka. Sebab orang-orang Arab tidak bisa melihat sungai jernih mengalir indah. Di sana juga tidak banyak taman hijau seperti di Indonesia.

Sungguh sindiran yang tajam dan dalam. Umat Islam di Indonesia diberikan tanah yang subur, tetapi hampir sebagian besar kurang mensyukurinya. Apalagi tak pandai merawat dan menjaganya. Maka banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya tak mungkin terjadi.

Memang benar, membaca buku ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hampir semua esai diangkat dari kisah nyata. Ada beberapa esai yang diinspirasi dari ceramah gus dan kiai. Tak heran, saat membacanya kita akan merasa dejavu.

Contohnya dalam esai pertama Amar Makruf Gus Mut dan Dakwah Sandal Jepit Kiai Kholil yang diinspirasi dari kisah nyata Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo, menceritakan pemimpin geng preman dan pengikutnya yang salat lima waktu saja tak pernah, tetapi mau saja salat Jumat hanya karena sandal. Kisah ini bermula dari masjid di kampung Gus Mut yang sandal-sandal jemaahnya sering hilang. Gus Mut yang merasa risih, meminta tolong pada Bang Is untuk mencari pelakunya. Bang Is yang notabene dikenal sebagai pemimpin geng preman di kampung tersebut, justru marah karena mengira Gus Mut menuduhnya mencuri. Untuk menyelesaikan permasalahan mengenai hilangnya sandal jemaah dan marahnya Bang Is, Gut Mut meminta tolong pada Kiai Kholil, abahnya.

Kiai Kholil berkunjung ke rumah Bang Is untuk menyelesaikan kesalahpahaman sekaligus meminta tolong. “Maksud kedatangan saya adalah meminta tolong ke kamu untuk jagain pelataran depan masjid tempat sandal-sandal biasanya ditinggal para jemaah. Sebagai sosok yang ditakuti dan punya pengaruh besar di kampung sudah pasti tidak akan ada orang yang berani kalau Is yang turun gunung langsung untuk jaga. Sebenarnya sih, saya bisa saja minta tolong orang lain tapi saya pikir tidak ada yang sekuat kamu pengaruhnya di kampung sini,” bujuk Kiai Kholil (hlm. 6). Bang Is menyetujuinya karena tersanjung dengan pujian Kiai Kholil. Maka setiap salat Jumat, Bang Is berada di pelataran masjid untuk mengatur parkir motor jemaah dan menjaga sandal.

Penjagaan berlangsung sampai salat Jumat keempat. Lama-kelamaan Bang Is merasa ada yang aneh. Memang betul sudah tidak ada kasus kehilangan sandal seperti sebelumnya. Tapi sebagai sosok yang berpengaruh dan ditakuti, menjaga sandal adalah pekerjaan yang tidak cocok untuk orang dengan posisi seperti dirinya. Bang Is lantas menghadap ke Kiai Kholil dan menyampaikan protesnya. Bang Is juga ingin sandalnya dijaga. Kiai Kholil memberi saran, kalau mau sandalnya dijaga maka Bang Is juga harus ikut salat di masjid. Bang Is pun setuju. Sedangkan yang menjaga sandal dan parkir motor dialihkan ke anak buahnya.

Bang Is amat tersanjung karena sandal buntutnya dijaga. Giliran anak buahnya yang tak terima. Masak preman harus menjaga sandal tukang becak dan tukang asongan. Maka anak buah Bang Is mencari orang lain agar menggantikan posisi. Begitu seterusnya sampai akhirnya Bang Is dan semua anak buahnya, termasuk yang suka mencuri sandal di masjid, jadi ikut salat Jumat. Alhasil, pencurian sandal di masjid pun jadi hilang sampai ke akar-akarnya. Hanya karena sebuah alasan sepele, masing-masing preman tidak sudi menjaga sandal orang lain dan lebih ingin sandalnya dijaga (hlm. 9).

Dari kisah tersebut, menggambarkan praktek amar makruf dan dakwah. Kiai Kholil tahu pasti preman seperti Bang Is dan anak buahnya tak mungkin mau salat walaupun dipaksa. Malah akan berkeras hati tak mau salat dengan cara kekerasan. Justru dengan amar makruf dan dakwah sandal jepit, mampu membuat mereka sukarela salat Jumat. Dengan cara cerdik dan halus macam yang dilakukan Kiai Kholil, seharusnya dicoba sebagai dakwah dan pengingat orang-orang yang keras.

Dalam Islam Kita Nggak Ke Mana-Mana Kok Disuruh Kembali?  yang dijadikan sebagai judul dalam buku ini, kisah yang diangkat tak kalah menohok. Kampung Gus Mut geger karena ada aksi bela agama melawan orang yang melecehkan agama Islam. Mas Is mengajak semua warga kampung ikut aksi tersebut. Dan ditanggapi oleh Gus Mut. Sebab Mas Is saja jarang salat. Kok tiba-tiba mau ikut aksi bela agama.

“Beda persoalan, dong. Ini menyangkut harga diri umat muslim. Kita sebagai umat Islam harus kembali. Kembali ke Islam yang kafah. Dan dengan jalan aksi bela agama ini kita justru bisa menyatukan persepsi. Menunjukkan pada dunia luar bahwa Islam Indonesia itu kuat karena bersatu,” kata Mas Is (hlm. 89). Menurut Mas Is, umat Islam Indonesia harus kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah. Padahal memang kita selama ini hidup harus selalu pakai Al-Quran dan As-Sunnah.

Justru orang yang mewanti-wanti yang sebenarnya belum kembali. Belum kembali ke masyarakat, belum kembali berjemaah di masjid kampung sendiri, belum kembali ke orangtua untuk berbakti kepada mereka, belum kembali ke keluarga untuk menafkahi mereka, belum kembali ke anak-anaknya untuk kasih waktu ke mereka. Semuanya ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Keduanya dekat dan ada di sekitar kita.

Begitulah dalam memeluk agama Islam, kita lebih sering melupakan hal yang esensial. Kita lebih memperhatikan ibadah orang lain ketimbang ibadah sendiri. Semoga setelah membaca buku ini, ibadah kita semakin rajin dan kuat. Amin.

*Pertama kali dimuat di Padang Ekspres, 18 Agustus 2019

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *