Mojok after Office: Kisah-Kisah Jenaka dari Kantor Orang Biasa

Mojok after Office: Kisah-Kisah Jenaka dari Kantor Orang Biasa

Di dunia kerja yang kaku dengan jargon “profesionalisme,” Mojok mungkin terdengar seperti anomali. Tapi justru di sinilah saya menemukan rumus aneh: semakin longgar komunikasinya, semakin erat kepercayaannya. Tentu, tidak semua kejenakaan perlu ditiru. Tapi kejenakaan yang lahir dari kebersamaan adalah harta yang tak bisa diukur dengan presensi. Ia tumbuh dari ruang yang membolehkan kita salah, mencoba, dan tertawa, bahkan saat dikejar deadline. Saya percaya, tawa adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan. Hanya dengan orang yang kita anggap aman kita bisa benar-benar bercanda. Dan hanya di tempat yang mengizinkan kelonggaran kita bisa tumbuh tanpa ketakutan. Di Mojok, keisengan bukan pembangkangan, tapi silaturahmi, primitif tapi efektif.

Di Mojok, kepercayaan bukan hanya dibangun lewat KPI, tapi dari tawa yang dibagi dan keisengan yang diterima dan dibalas. Kepemimpinan yang baik, salah satunya saya pelajari justru dari ponsel dan kunci motor yang disembunyikan. Bukan dari menjaga wibawa agar tidak dijatuhkan, tapi dari menciptakan ruang tempat orang merasa cukup aman untuk bercanda denganmu. Bahkan ketika candanya agak menyebalkan.

 

Penulis: Muchammad Aly Reza, Aditya Rizki, Agung Purwandono, Ahmad Efendi, Aisyah Amira Wakang, Dena Pasha, Dony Iswara, Ega Fansuri, Ibils S Widodo, Intan Ekapratiwi, Januar Dhika Bagaskara, Kenia Intan, Purnawan Setyo Adi, Rizky Prasetya, Yamadipati Seno

Format: Soft Cover

Halaman: 132 halaman

Penerbit: Buku Mojok

Berat: 0,8 kg

Ukuran: 13×19 cm

Harga: 78.000