Diskon +60% Cek!
Diskon!
Rp128.000 Harga aslinya adalah: Rp128.000.Rp78.000Harga saat ini adalah: Rp78.000.
Rp208.000 Harga aslinya adalah: Rp208.000.Rp170.000Harga saat ini adalah: Rp170.000.
Rp134.900 Harga aslinya adalah: Rp134.900.Rp100.000Harga saat ini adalah: Rp100.000.
Rp128.000 Harga aslinya adalah: Rp128.000.Rp100.000Harga saat ini adalah: Rp100.000.
Rp350.000 Harga aslinya adalah: Rp350.000.Rp100.000Harga saat ini adalah: Rp100.000.
Rp77.000 Harga aslinya adalah: Rp77.000.Rp52.000Harga saat ini adalah: Rp52.000.
Diskon terbaik minggu ini
Kamu dapat pantau diskon mingguan di sini
Cinta Tak Pernah Tepat Waktu edisi 20 Tahun (Hard Cover)
Demokrasi Para Perampok x Tshirt Tokoh [Edisi Bundling]
Bundling Merdeka dari Stigma Menstuasi
Bundling Sirkus Pernikahan
PAKET BLIND BOOK 100k 5 Judul
Mentalitet Korea Jalan Ksatria Komandan Bambang Pacul
“Nubuat Tentang Hawa” telah ditambahkan ke keranjang belanja Anda. Lihat keranjang
Dalam sehimpun puisi yang memadukan ragam bahasa binan, bahasa gaul, dan bahasa Inggris, juga nukilan budaya populer Indonesia dan mancanegara, ia mendefinisikan queer sebagai sebuah praktik main-main penuh canda untuk menciptakan makna dan cara hidup alternatif di luar wacana dominan.
Mulai dari Desy Ratnasari, RuPaul, puyer Cap Kupu-Kupu, McDonald’s Sarinah, celana dalam GT Man, sampai bintang porno Jepang, Koh Masaki, kumpulan puisi ini mengajak kita semua untuk tertawa secara politis—bahwa perlawanan tak melulu harus tarik otot.
Buku ini ditulis seorang pengamat sekaligus praktisi pendidikan sepanjang 19 tahun. Ketekunannya memerhatikan sistem pendidikan di Indonesia—yang selalu terhubung dengan kebijakan negara dan hubungan politik antarinstitusi—memberi tahu kita alasan mengapa kualitas pendidikan tak kunjung bergerak maju secara berarti. Anak didik jadi korbannya. Tak hanya mengungkap penghambat sistem pendidikan, ia juga menuliskan pengalamannya mempraktikkan pedagogi alternatif di banyak kelas.
Gus Dur meyakini bahwa Islam memiliki ajaran-ajaran universal. Namun ajaran itu tak akan berbunyi tanpa ada keberanian untuk menghadirkan Islam dengan kearifan, kepercayaan diri, dan keterbukaan untuk memasuki gelanggang peradaban dunia. Itulah kosmopolitanisme peradaban Islam.
Menonton film India, membahasnya, apalagi menuliskannya adalah semacam kerelaan menjadi–meminjam judul film garapan Mehmood tahun 1996–dushman duniya ka; sang musuh semesta.
Buku ini mengajak kita menghayati pengembaraan, gagasan jernih, karya penting, dan dedikasi ulama-ulama dunia terhadap ilmu. Mereka senantiasa belajar sehingga terhindar dari kejumudan yang kerap mengarah pada pengerdilan pengetahuan dan pemampatan zaman. Mereka, ulama yang mencintai ilmu, adalah sebaik-baik penopang zaman.
Indies dengan pengaruh besar Britpop menemui surut setelah pasang sejak 1995 sampai 1999. Memasuki milenium ketiga, indie pop menjadi salah satu referensi baru di kancah musik. Ia menjadi pilihan lain bagi mereka yang berniat mencari jejak Britpop. Indie pop juga menghadirkan episode baru dari perkembangan skena indie di Bandung.
Feminisme sebagai sebuah gerakan dan teori sosial memiliki sejarah panjang perkembangannya. Di tiap zaman dan gelombang, ia saling berdialog, mengritik, dan menciptakan arus-arus pemikiran baru yang berperang untuk membedah ketidakadilan gender yang ada hingga hari ini.
Nubuat Tentang Hawa adalah buku kumpulan puisi perdana Stephi yang berisikan kegelisahan, kemarahan dan berbagai hasrat yang dituangkan dalam 40 rangkaian puisi.
Omong kosong pemerintah dalam menyelesaikan kasus HAM masa lalu, ketakutan masyarakat akan hal-hal berbau kiri, demo kenaikan upah buruh, dan buku-buku alternatif yang tidak begitu diminati pasar adalah beberapa kumpulan esai ini. Berangkat dari pengalaman dalam dunia aktivisme sejak kuliah, tulisan-tulisan Aditia Purnomo terasa tidak berjarak dengan kenyataan hidup sehari-hari.
Remaja muda desa kian menganggap hidup di desa dan bekerja sebagai petani adalah hidup yang tidak menjanjikan. Desa berubah menjadi tempat bertumbuh sebagai anak-anak untuk kemudian ditinggalkan ketika beranjak remaja atau menjelang dewasa.
Esai-esai ini lahir dari pengalaman Nurhady Sirimorok masuk keluar berbagai desa di pulau Sulawesi. Pengalaman yang kaya untuk menilai segala sesuatu tentang desa secara multi dimensional. Ditulis dengan narasi yang luwes serta deskirpsi-deskripsi yang detail, Nurhady mengajak kita menyelami masalah-masalah di desa dengan cara yang menyenangkan dan humanis.
Kumpulan esai kehidupan santri di pesantren yang syarat nilai-nilai kehidupan dan disertai dengan kisah-kisah santri yang mengelitik.
Menjadi diri sendiri adalah pesan dari ilham yang masih saya pegang. Hitung-hitung, kemewahan buat saya (rakyat jelata penggemar kiu-kiu yang kebetulan jadi arsitek ini) tinggal dua saja: nonton konser dangdut dan menertawakan pejabat. Kebetulan keduanya sedang booming belakangan ini. Yang pertama ada di semua stasiun televisi kecuali Metro dan Net, yang kedua selalu tersedia bahannya setiap hari.
#dearRiver adalah warisan yang sejak awal diniatkan Fauzan Mukrim menjadi media bagi putra pertamanya mengenal lebih jauh siapa ayahnya. Banyak petuah-petuah yang dipetik Fauzan dari kesehariannya sebagai lelaki, anak, kakak, teman, pekerja; sebagai manusia.
Naskah ini berisi tentang cerita yang disarikan dari catatan-catatan penulis selama menjalankan tugas di Kampung Mumugu Batas Batu, Kabupaten Asmat, papua sebagai sukarelawan guru.
Dari Kekalahan ke Kematian
Sebab, satu-satunya cara memisahkan sepakbola dari politik adalah dengan meniadakannya sama sekali.
Kumpulan esai musik dan reportase konser musik yang ditulis dengan gaya “ugal-ugalan” khas pecinta musik hair metal yang banal, tetapi juga disusun rapih dengan berbagai data dan pengalaman pribadi penulisnya dalam jagad musik lokal maupun internasional.
Buku nonfiksi karya Puthut EA yang memaparkan kisah hidup tiga perupa muda Indonesia.
Censorship, atau penyensoran, menjadi salah satu bentuk penindasan terbesar dalam peradaban modern saat ini. Meskipun tampaknya jauh dari pengertian penindasan yang lebih tradisional, seperti kontrol politik atau kekerasan fisik, penyensoran dalam konteks media sosial dan informasi digital merambah ke dalam cara kita memahami dan berinteraksi dengan dunia. Penyensoran ini tidak hanya membatasi akses terhadap informasi yang penting, tetapi juga memengaruhi bagaimana kita membentuk opini, menjalin hubungan, dan mengembangkan pemahaman tentang berbagai isu global.