Tragedi di Halaman Belakang

Rp68.000
In Stock

Berbekal pengalaman sebagai jurnalis serta kecintaan pada perjalanan, Eko Rusdianto mengelilingi pulau di Indonesia Timur ini guna mengumpulkan cerita-cerita dari korban kekerasan masa lalu. Kisah anak-anak yang orang tuanya dibunuh sebab menolak perintah pindah agama dari pasukan Kahar Muzakkar, saksi hidup pembantaian Westerling, tapol 65 di kamp Moncongloe, konflik antaragama Poso, memori anak-anak curian Timor Leste yang dibawa ke Sulawesi oleh ABRI, juga pemeluk Nasrani yang menggunakan nama Islam demi menyelamatkan nyawanya. Kejahatan-kejahatan itu kebanyakan tidak terselesaikan. Korbannya kini menua, hanya dapat menceritakannya sebab harapan tampak tak lagi tersedia.

This product has been added to 1 people'scarts.

In Stock
Add to wishlist4 people favorited this product
  • Order sebelum pukul 14.00 akan dikirim pada hari yang sama.
  • Customer Service Bumo siaga mulai pukul 09.00-16.00
  • Cek estimasi ongkos kirim pada tab Ongkos Kirim
  • Informasi lain silahkan hubungi Kontak
SKU: EA-036
Category:
Tag:

Deskripsi

Sejarah Indonesia selalu ditulis dari sudut pandang penguasa. Mereka doyan bercerita tentang peperangan dan penaklukan, membuat imajinasi kita hanya berisi kisah-kisah ketangguhan para jenderal. Kekerasan di dalamnya tergantikan unsur kepahlawanan. Orang-orang biasa yang jadi korban konflik antarpenguasa, yang sesungguhnya menjalani hidup dengan damai, dilupakan begitu saja. Kita tidak pernah tahu bagaimana mereka bertahan melalui sebuah tragedi lalu meneruskan hidup sambil membawa trauma dan kesedihan.

Lewat Sulawesi, Eko Rusdianto ingin membuka selubung itu. Berbekal pengalaman sebagai jurnalis serta kecintaan pada perjalanan, ia mengelilingi pulau di Indonesia Timur ini guna mengumpulkan cerita-cerita dari korban kekerasan masa lalu. Kisah anak-anak yang orang tuanya dibunuh sebab menolak perintah pindah agama dari pasukan Kahar Muzakkar, saksi hidup pembantaian Westerling, tapol 65 di kamp Moncongloe, konflik antaragama Poso, memori anak-anak curian Timor Leste yang dibawa ke Sulawesi oleh ABRI, juga pemeluk Nasrani yang menggunakan nama Islam demi menyelamatkan nyawanya. Kejahatan-kejahatan itu kebanyakan tidak terselesaikan. Korbannya kini menua, hanya dapat menceritakannya sebab harapan tampak tak lagi tersedia.

Ditulis dengan pendekatan antropologi yang meyakinkan, buku ini tidak hanya menampilkan kisah kekerasan Sulawesi, tetapi juga jiwa manusia yang redup usai melewati babak panjang kekerasan. Meski demikian, mereka masih dapat menertawakannya.

Informasi Tambahan

Berat 0,3 kg
Berat

0.3 KG

Dimensi

13 x 19 cm

Halaman

199

ISBN

978-623-91089-8-4

Penerbit

Penulis

Tahun Terbit

Kalkulator Ongkos Kirim

Jumlah
Tujuan
Provinsi
Kota/Kab.
Kecamatan